Archive for the ‘Profil’ Category
Menyetel Selera Juara
Tempo 27 Januari 1973. Rauf, pegawai Rama Stores, telah 15 tahun menangani pemasangan raket. nama-nama tenar seperti Eddy Yusuf, Tan King Gwam, Rudy Hartono, Minarni berhutang budi padanya. ia tak dapat penghargaan dari PBSI.
13.000 pengunjung Istora bulan Nopember lalu berdegup menahan napas ketika Iie Sumirat mencoba dengan lenturan yang manis mengembalikan bulu angsa kedaerah permainan Sture Johnson, untuk mengambil alih ketinggalannya. Bola melintir lamban di atas net seolah tak sampai, sementara penonton hanya bisa menolong jagoannya dengan doa. Kecuali Iie, tak seorang pun tidak juga Sture Johnson — yang mengira kalau bola itu akan jatuh tegak lurus di balik net. Momen serupa itu bukan yang pertama di tangan Iie, karena kekuatan permainannya justru terletak di sana. Farida Syuman. Lain pula ceritanya dengan Rudy Hartono, meski geraknya kadangkala melas bagaikan Farida Sjuman, namun jalannya bola selalu terkendali dari raketnya. Baca entri selengkapnya »
Membujuk Tuti Kembali
Lamaran Darmadi
Mulyadi Mogok, Mengapa ?
Rudy Kembali Tergoda
Tempo 11 Maret 1972. Rudy Hartono, juara All England empat kali, yang sempat main film akan di All England tahun ini. ia dengan disiplin dan bersemangat berlatih kecepatannya sudah berkurang, tapi ia makin matang.Sekarang Bisa Diceritakan
Majalah Tempo 11/I 15 Mei 1971.Tan joe hok, eks pemain bulu tangkis indonesia yang telah jatuh namanya, sukses menjadi pelatih di mexico. ia pun lalu diminta melatih di hongkong. ada yang mengharapkan ia jadi penghubung indonesia-rrc.
MASIH ada oleh-oleh jang ketinggalan ditas Sekdjen PBSI P. Sumarsono, jang bertindak sebagai Team Manager PBSI ke All England 1971. Disamping berita tentang kemenangan Rudy Hartono jang keempat kalinja di Empire Pool and Sports Arena, Wembley, London, Sumarsono mengeluarkan setjarik fotocopy “Surat Pudjian Komite Olimpiade Meksiko”. “Tjoba batja ini. Joe Hok benar-benar sukses. Kini banjak berubah dan dewasa”, katanja kepada TEMPO sambil memperlihatkan surat penghargaan Komite Olimpiade Meksiko jang ditanda-tangani Ketuanja Josue Saenz. Sumarsono-pun bertjerita tentang permainan Diaz Gonzales, Djuara Meksiko, jang terdjun pula digelanggang All England. Anak muda ini jang sekaligus mendjadi anak asuhan Hendra Kartanegara alias Tan Joe Hok, berhasil mengalahkan K. Johnson dari Swedia (15-2, 15-5) dan veteran All England Erland Kops dari Denmark (15-6, 15-12), sebelum Gonzales disisihkan Muljadi di babak ketiga dengan 13-18, 4-15. Baca entri selengkapnya »
Scheele Tentang Rudy
Majalah Tempo. 08/I 24 April 1971. Hea Scheele editor buku “The International Badminton Federation Handbook 1971″ tanpa ragu-ragu menyebutkan Rudy Hartono sebagai pemain terbaik th 1970. ia mengatakan Rudy mempunyai prestasi & pribadi yang baik.
“TIDAK perlu diperdebatkan siapakah Pemain Terbaik 1970″, tulis H.E.A. Scheele. Editor Buku-Pedoman “Federasi Bulutangkis Internasional” 1971 (The International Badminton Federation Handbook 1971) jang merangkap Sekdjen Federasi tersebut. Dalam Bab “Topik Hari Ini” Scheele tanpa ragu-ragu menampilkan Rudy Hartono Kurniawan pemain Indonesia jang baru-baru ini berhasil merebut Kedjuaraan “All England” untuk keempat kalinja. Scheele mengemukakan dasar-dasar pertimbangannja sebagai berikut: Baca entri selengkapnya »
Rudy, Anak Ajaib
Majalah Tempo. 06/I 10 April 1971. Rudy Hartono beberapa kali juara All England mendapat pujian Sudirman, ketua PBSI, Rudy & Tan Yoe Hok menurut Wong Peng Soon, eks juara all england th 50-an mempunyai kelebihan & kekuatan berbeda.
24 DJAM setelah tersiar berita kemenangan Rudy Hartono dalam All England, Ketua Persatuan Bulu tangkis Se-lndonesia (PBSI), memberikan komentarnja kepada Sjahrir Wahab, wartawan TEMPO. Doktorandus jang bernama Sudirman itu bilang: “Apa jang ditjapai Rudy Hartono merupakan penulisan dengan tinta emas dalam sedjarah perbulutangkisan Indonesia”. Sudirman jang terpilih lagi dalam Kongres PBSI d Jogja tersebut, setelah meneliti menambahkan bahwa sang djuara All England jang sesungguhnja baru berusia 21 tahun itu, telah melakukan sesuatu jang tidak pernah terdjadi sebelumnja dalam sedjarah olahraga Indonesia. Dalam komentar jang diberikannja lewat wawantjara chusus dikantornja tersebut, tersisip kejakinan, bahwa Hartono bisa mempertahankan gelarnja sampai enam kali. Baca entri selengkapnya »
Darmadi, Sang Pilot
Tempo Mei 1971. Darmadi eks pemain thomas cup Indonesia, merasa asing dengan kota Jakarta. bertekad bulat meninggalkan gelanggang bulutangkis, berniat jadi penerbang. dapat lisensi dari flight safety incorporation.
BARANGKALI Darmadi akan latah dan langsung memesan taksi menudju Senajan, andaikata dia lupa bahwa 10 bulan sudah sedjak dia menggantung raket badmintonnja. Tanggal 15 Mei tengah malam Djuara Indonesia 1969 dan bekas pemain Thomas Cup Indonesia ini tiba dilapangan udara Kemayoran. Baginja tinggal diluar Kompleks Senajan seolah Djakarta terasa asing. Setelah bermalam beberapa hari dirumah “ajah angkat”nja, di Djl. Toko Tiga Seberang, Darmadi pun melandjutkan perdjalanan menudju kota kelahirannja, Solo. Baca entri selengkapnya »
Rudy & Nuddah
Tempo Januari 1971. Rudy Hartono berpacaran dengan Nuddah, asal Thailand. perkenalan pertama ketika Asian Games V di negeri itu. Zulkarnaen Kurniawan, ayah Rudy merestui hubungan itu. Rudy gelisah, saat Nuddah jatuh sakit.
DISAMPING sudah barang tentu milik kedua orangtuanja, Rudy Hartono pasti sudah ada jang punja. Di Hotel Garuda Jogjakarta, dikamar 21 dan 22, diatas medja-medja kedua kamar itu, terletak dua rangkai karangan bunga. Keduanja dihiasi apel, anggur, djeruk, pisang dan lain sebagainja. Di kedua kamar itu bermalam Rudy dan Muljadi. Mereka datang di Jogja untuk sekedar demonstrasi badminton dalam suatu eksibisi turnamen digedung olahraga Beteng. Baca entri selengkapnya »